Resensi Buku 2020 Indonesia dalam Bencana krisis Minyak

Lepas dari candu BBM ?
Oleh Siti Maimunah
Badan Pengurus Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)

DATA BUKU :
Judul : 2020 Indonesia dalam Bencana krisis Minyak
Pengarang : Pria Indirasardjana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 345 Halaman
ISBN : 978-602-03-0472-4

Semasa kecil saya suka menghirap asap knalpot sepeda motor, “ baunya enak”. Tak jarang saya menjulurkan kepala keluar jendela mobil angkoy agar bisa merasakan bau asap pembakaran bensinya. Saya baru tau belakangan, asap mengandung karbonmonoksida yang berbahaya bagi kesehatan.

Pengalaman serupa dituturkan Pria Indirasardjana dalam buku, 2020 indonesia dalam krisis minyak nasional. Laki- laki selama tiga decade menekuni bidang perminyakan-sebagian besar bersama pertamina-ini secara tepat menganalogikan pengalaman masa kecil tersebut dengan pengetahuan rakyat terhadap kebanyakan bahan bakar minyak (BBM). Rakyat tidak tahu atau dibiarkan tidak tahu bahwa ketergantungan terhadap BBM itu berbahaya.


Tak hanya berbahaya buat kantong Negara, yang pada akhir 2012 menghabiskan 211,9 triliun untuk subsidi BBM, meningkat menjadi 224 triliun pada tahun berikutnya. Kenyamanan menggunakan BBM murah dengan harga dibawah pasar membuat Indonesia mencandu BBM dan terlena tidak membangun infrastruktur untuk emmanfaatkan energy alternative, khususnya energy terbarukan.
Dalam buku ini tidak hanya mencatat mencandu BBM, tetapi juga ketergantungan Indonesia secara ekonomi terhadap minyak bumi yang dapat membuat menjadi sasaran pemburu rented an melahirkan korupsi yang luar biasa sejak masa soeharto hingga kini. Minyak menjadi komuditas ekonomi, sekaligus komuditas politik.

Awalnya, pemerintah orde baru mengenalkan subsidi BBM untuk memenuhi kebutruhan energi agar lebih banyak masyarakat turut menikmati rejeki nomplok dari kekayaan minyak ketika Indonesia menjadi salah satu penghasil utama migas dunia. Sayang, tanpa mengubah orientasi ketergantungan pada BBM, pemerintah berikutnya-orde reformasi juga mengikuti jejak pendahulunya. Hingga akhirnya, bangsa ini berhadapan menurunya cadangan minyak dan gas bumi, status dari Negara pengekspor minyak berubah menjadi net importer, keluar dari keanggotaan OPEC (2008), dan kenaikan harga minyak dunia.

Gelombang protes rakyat dan perdebatan yang panas setiap kali ada rencana kenaikan harga BBM, yang umumnya berdekatan dengan momentum politik, emmbuat subsidi BBM menjadi topic paling manjur untuk pencitraan public sebagai orang yang peduli pada nasib rakyat. Namun, begitu harga BBM naik dan tidak ada gejolak sosial yang membahayakan pemerintahaan, pekerjaan dianggap selesei. Tidak ada tindakan serius mengubah kecanduan dan naiknya penggunaan BBM. Perdebatan dimulai kembali saat harga BBM dinaikan (lagi) hingga keekonomianya, sesuai yang disarankan international monetary fund.

Energi Alternatif
Mencari ulasan seputar minyak dan krisis yang menyertainya, termasuk krisis ekologis di kawasan- kawasan eksploitasi minyak dan jalur transportasinya, dalam buku ini tentu tidak terpuaskan. Buku ini berfokus pada keekonomian minyak.

Bagian pertama buku menjelaskan tentang era nyaman dan mapan, suatu masa di Indonesia saat produksi minyak bumi masih tinggi, wind fall profit, kejayaan pengelolaan migas, dan subsidi BBM belum membebani Negara. Pada bagian kedua, dipaparkan karakter industry minyak bumi baik dalam skala nasional maupun internasional. Bagian ini merupakan bahasan yang bisa jadi paling dipahami pria karena keterlibatanya di pertamina. Inti buku sebenarnya ada di bagian III, paradigma setelah produksi dan cadangan minyak susut.

Buku ini mengajak kita “naik kelas” untuk memikirkan ketahanan energy kedepan dan tak hanya berkutat kepada subsidi dan naiknya harga BBM. Dalam dua dasawarsa kedepan, diperkirakan minyak bumi masih primadona. Namun, ia mengusulkan harus segera disusun peta jalan(road mark) energy alternative yang sama sekali terpisah dari peta jalan minyak dan gas.

Kecanduan BBM harus dirubah. Saatnya energy alternative. Begitu salah satu solusi yang ditawarkan pria. Pasokan energy selain minyak bumi dan produk turunanya bukan solusi baru karena penawaranya masih berputar pada energy fosil (bahan bakar gas dan salegas), panas bumi, dan bahan bakar bio, untuk energy terbarukan. Namun, pria tak mengulas kekayaan energy baru dan terbarukan yang berlimpah, seperti energy matahari, angin, air dan gelombang laut, yang belum dimanfaatkan dengan sungguh- sungguh.

Presiden terpilih jokowi berencana mendorong penggunaan batu bara sebagai energy alternative. Namun, pria menyarankan konversi energy ke batu bara masih perlu banyak evaluasi menyangkun harga produksi dan keekonomian, investasi untuk teknologi konversi, dampak lingkungan, transportasi, dan kesediaanya. Apalagi, batu bara dan bahan bakar fosil lainya menghasilkan asam sulfat, karbonik dan nitric yang jatuh kebumi sebagai hujan asam. Belum lagi kandungan bahan radioaktifnya terutama uranium dan thorium yang dilepas keudara. Emisi karbon pada proses penambangan, transportasi, hingga pembakaran energy fosil berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim yang isunya juga menjadi perhatian dunia global.

Antisipasi terhadap krisi minyak di Indonesia kali ini tidak main- main dan tidak boleh hanya wacana. Sebab, tahun 2020, era saat jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 262 juta dan pertumbuhan industry, informatika, dan energy maju pesat, tinggal lima tahun lagi. Era yang disebut oleh penulis sebagai era tinggal landas bagi setiap bangsa menuju 2030. Jika ketahanan energy terus menerus kedodoran seperti sekarang, bangsa kita akan (benar- benar) tertinggal.

Dipublikasikan oleh Harian Kompas Edisi Minggu, 21 september 2014.

0 Response to "Resensi Buku 2020 Indonesia dalam Bencana krisis Minyak"

Posting Komentar